It`s time to speak up!!!

Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) mengadakan pelatihan Publik speaking atau mahir berbicara di depan umum 10 sampai dengan 15 Februari 2008 di Kuta Lagoon Hotel,Kuta Bali. Sebanyak 22 orang peserta dan 3 orang panitia yang kesemuanya adalah perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelatihan ini didukung sepenuhnya oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan IHPCP. Pelatihan ini di fasilitasi oleh tiga orang fasilitator Danny I Yatim,Teddy A etiadi dan Tri Irwanda.
Peserta lebih banyak berlatih bagaimana berbicara di depan umum, bagaimana mengatasi rasa gugup, Mengapa Kita Perlu Berbicara di Depan Umum, bagaimana memperkenalkan diri secara formal, bagaimana berkomunikasi yang baik,presentasi yang baik dan buruk, bagaimana penampilan yang profesional, tehnik wawancara radio dan televisi.
Bahkan untuk belajar bagaiamana wawancara di radio, beberapa peserta yang terpilih mengikuti siaran langsung di beberapa radio di Bali. Seperti radio Dian Mandiri, Cassanova, Super radio, RRI, dan Bali FM. Tema untuk siaran mereka lebih banyak tentang situasi HIV/AIDS didaerah masing-masing dan sosialisasi tentang keberadaan IPPI.
Dihari terkahir, semua peserta dijamu makan malam di Padi-padi Resto oleh IHPCP dan pada malam perpisahan ini ternyata fasilitator menyiapakan hadiah untuk peserta terfaforit.
Pelatihan sudah usai, tetapi masih banyak hal yang harus dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak sebagai seorang perempuan. So, it`s time to speak up!!!
kondom perempuan

“ Koq kondomnya gede banget..” ungkap salah seorang peserta Pertemuan Nasional an Kongres Pertama Ikatan Perempan Positif Indonesia ( IPPI ), awal Februari ini di Hotel satelit Surabaya.
Materi tentang kondom perempuan memang diselipkan ditengah-tengah agenda IPPI yang cukup padat. Tetapi itu tidak mengurangi ketertarikan tujuh puluh orang permpuan yang hidup maupun terdampak dengan HIV dan AIDS mengikuti sesi. Dan memang, tidak ada satupun laki-laki dalam ruangan tersebut.
Bisa diakui Caroline Maphosere dari Zimbabwe selaku narasumber, mampu mengemas materi tersebut dengan menarik, meskipun dengan bantuan penterjemah. Karena bahasa yang digunakannya dalam bahasa inggris.
Dari tujuh puluh orang peserta, hanya tiga orang yang mengaku penah memakai kondom tersebut. Itupun mereka masih mengalami ketidak nyamanan pada saat penggunaan kondom tersebut. Diakui Caroline, penggunaan kondom perempuan di Indonesia masih sangat jauh dengan Zimbabwe yang sejak 1997 sudah sangat mengenal kondom perempuan ini. Indonesia sendiri baru melaunching kondom perempuan 2007 pada Pertemuan Nasional di Surabaya.
Caroline menjelaskan ada dua bahan untuk kondom perempuan, Polyreuthere dan dari bahan latex seperti halnya kondom laki-laki. Banyak keuntungan yang didapat dengan kondom perempuan. Tidak seperti kondom laki-laki, kondom perempuan bisa digunakan delapan jam sebelum berhubungan seksual, ini bisa mengantisipasi apabila pasangan seksual kita dalam keadaan mabuk.
Bukan hanya itu, kondom perempuan memepunyai kelebihan bisa digunakan hingga lima kali, karena bisa dicuci. Tentunya di cuci bersih dengan sabun dan air bersih, lalu dikeringkan dengan haduk bersih. Pada saat penyimpanan, diletakkan disela-sela atau lipatan handuk yang bersih tersebut. Dan harus dipastikan tidak ada kebocoran pada kondom tersebut.
Pada saat menggunakan kondom perempuan yang sudah pernah dipakai, kita hanya perlu menggunakan pelican yang berbahan dasar air.
Kelebihan lainnya, pada saat perempuan mengalami menstruasi. Kondom perempuan masih tetap bisa digunakan dan bisa melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
Kondom peremuan memiliki dua ring yang berbentik seperti cincin, lain halnya dengan kondom laki-laki. Kondom perempuan mengikuti anatomi organ reroduksi perempuan. Dan tidak perlu khawatir kondom perempuan ini bisa jatuh atau lepas apabila pemakaiannya benar.
Caroline menegaskan kondom perempuan merupakan salah satu alat agar perempuan mampu berdaya. Dalam artian agar perempuan tidak selalu dalam posisi tawar yang rendah dalam hal tawar menawar penggunaan kondom dengan pasangan.
Pemakain kondom perempuan harus sering dilatih agar terbiasa hingga mampu menciptakan kenyamanan dalam pemakaiaannya.[Ikha Widari]
tulisan ini sudah pernah di muat di Majalah Kul-kul edisi maret 2007.